Kabid Humas Polda NTT Implementasikan Strategi SCCT Polri Presisi untuk Perkuat Kepercayaan Publik

Kabid Humas Polda NTT Implementasikan Strategi SCCT Polri Presisi untuk Perkuat Kepercayaan Publik

www.tribratanewsrotendao.com.Kupang, NTT - Di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap bergerak lebih cepat dari fakta, Kepolisian Negara Republik Indonesia terus berbenah. Upaya memperkuat kepercayaan publik dan mewujudkan Polri yang Presisi kini tidak lagi sekadar jargon, tetapi diterjemahkan dalam langkah strategis yang terukur dan berbasis ilmu pengetahuan.

Di bawah arahan Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, S.I.K., M.T.C.P. selaku Kadiv Humas Polri, seluruh jajaran kehumasan diinstruksikan untuk mengadopsi pendekatan Situational Crisis Communication Theory (SCCT). Teori komunikasi krisis ini menekankan pentingnya membaca konteks secara cermat sebelum merespons sebuah isu. Bukan lagi komunikasi yang reaktif dan kaku, melainkan komunikasi yang presisi, terukur, dan berlandaskan empati.

Bagi Irjen Pol Johnny Isir, setiap krisis memiliki karakter berbeda. Ada isu yang lahir dari kesalahpahaman, ada yang dipicu oleh kelalaian prosedur, dan tidak sedikit pula yang merupakan serangan hoaks yang terstruktur. Melalui kerangka SCCT, personel Humas dituntut mampu memetakan jenis krisis secara akurat sebelum menentukan strategi respons—apakah dengan klarifikasi data, penegasan fakta, atau bahkan permohonan maaf terbuka.

Pendekatan ini mengedepankan kejujuran sebagai fondasi utama. Jika memang terjadi kekeliruan di lapangan, Polri didorong untuk menunjukkan empati dan menyampaikan apology secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab moral. Sebaliknya, ketika institusi menjadi korban disinformasi, strategi victimage diperkuat—membela institusi dengan data, bukti, dan transparansi agar publik memperoleh gambaran yang utuh.

Arahan strategis tersebut segera ditindaklanjuti di wilayah timur Indonesia. Di bawah komando Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur, Kabid Humas Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H. bergerak cepat memastikan implementasi berjalan efektif hingga ke tingkat Polres. Seluruh Kasie Humas di jajaran NTT diperintahkan lebih proaktif dalam manajemen reputasi dan pengelolaan isu publik.

Kombes Pol Henry menekankan pentingnya Analisis Framing dan Negamorphing—kemampuan mengolah narasi agar opini negatif tidak berkembang liar, melainkan diarahkan menjadi pemahaman yang objektif melalui penyajian fakta yang lengkap dan proporsional. Baginya, setiap isu viral di NTT harus direspons cepat, bukan dengan defensif, melainkan dengan kepedulian dan solusi konkret.

“Kita harus hadir di tengah masyarakat melalui informasi yang menenangkan. Setiap isu viral di NTT wajib direspons cepat dengan mengedepankan rasa kepedulian dan solusi nyata,” tegasnya.

Di Bumi Flobamora, komunikasi kini bukan sekadar penyampaian informasi, tetapi jembatan emosional antara aparat dan masyarakat. Dengan menjadikan pemberitaan media dan dinamika opini publik sebagai kompas evaluasi, Humas Polda NTT berkomitmen menghadirkan pesan yang edukatif, transparan, dan solutif.

Transformasi ini menjadi penanda bahwa Polri tengah bergerak menuju paradigma komunikasi modern—berbasis sains, berlandaskan empati. Harapannya, bukan hanya profesionalisme yang meningkat, tetapi juga kedekatan emosional dengan masyarakat Nusa Tenggara Timur semakin kuat. Dalam keterbukaan dan kejujuran, tumbuhlah kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah, situasi kamtibmas yang kondusif dapat terus terjaga.